Senin, 04 Maret 2013

GBJ 3.2 D

Ada sedikit perubahan yang membantu dalam software kali ini dibandingkan versi sebelumnya.
versi kali ini bukan hanya terdiri dari 2 Grafik Barber Johnson yaitu menurut aturannya David Barber dan Barry Johnson dan DEPKES dalam SIRS, tapi kali ini pelaporan pun lebih tertata lebih baik dan ada pembantu prediksi kesalahan dalam proses sensus rawat inap dan dibantu dengan Kamus Mini tentang Grafik Barber Johnson

langsung aja dicoba dengan mencoba versi demo dapat di download
"GBJ 3.2 D"

bila berminat untuk versi asli dapat mengubungi :
Muhammad Aldafikin
0856 438 62 610
m.aldafikin@gmail.com

Sabtu, 26 Januari 2013

GBJ versi Barber Johnson vs GBJ versi Departemen Kesehatan RI

Grafik Barber Johnson????

Grafik Barber johnson merupakan salah satu alat untuk mengukur tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur di Rumah Sakit. Dimana ada 4 parameter pokok yang menjadi dasar pembuatan grafik ini, yaitu BOR, LOS, TOI, dan BTO.

Tapi........yang jadi masalah ada 2 aturan dalam pembuatan grafik barber johnson sehingga menimbulkan 2 grafik barber johnson yang berbeda meskipun tidak terlalu jauh.

Barber Johnson
Barry Barber dan David Johnson merupakan pelopor dari grafik barber johnson, Dimana mereka menentukan cara penghitungan 4 parameter tersebut dan standart ideal dari 4 parameter tersebut, yakni :
- BOR (Bed Occupancy Ratio) dengan standart ideal 75 % - 85 %

                   Hari Perawatan                                                         
   BOR = ---------------------------- x100%                             
            Jumlah TT x Jumlah Hari                                    

- LOS (Length Of Stay) dengan standart ideal 3 Hari - 12 Hari 


                      Hari Perawatan
   LOS =  -------------------------------- 
            Pasien Keluar (Hidup +Mati)

- TOI (Turn Over Interval) dengan standart ideal 1 Hari - 3 Hari 

            (Jumlah TT x Jumlah Hari) - Hari Perawatan      
   TOI = --------------------------------------------------------------         
                       Pasien Keluar (Hidup +Mati)                        

- BTO (Bed Turn Over) dengan standart ideal 30 Kali - 40 Kali per Tahun 
                         Jumlah TT
   BTO =   --------------------------------
            Pasien Keluar (Hidup +Mati)




Departemen Kesehatan RI
Depkes RI dalam "SIRS 6" terdapat sebuah aturan dalam membuat grafik barber johnson yaitu :

BOR (Bed Occupancy Ratio) dengan standart ideal 65 % - 85 %

                   Hari Perawatan                                                         
   BOR = ---------------------------- x100%                             
            Jumlah TT x Jumlah Hari                                    

LOS (Length Of Stay) dengan standart ideal 6 Hari - 9 Hari 


                      Lama Dirawat
   LOS =  -------------------------------- 
            Pasien Keluar (Hidup +Mati)

TOI (Turn Over Interval) dengan standart ideal 1 Hari - 3 Hari 

            (Jumlah TT x Jumlah Hari) - Hari Perawatan      
   TOI = --------------------------------------------------------------         
                       Pasien Keluar (Hidup +Mati)                        

BTO (Bed Turn Over) dengan standart ideal 40 Kali - 50 Kali per Tahun 
                         Jumlah TT
   BTO =   --------------------------------
            Pasien Keluar (Hidup +Mati)

Terdapat Perbedaan diantara 2 aturan tersebut, dimana menghasilkan fungsi yang sama. meskipun perbedaannya tidak terlalu jauh yakni : standart ideal dan rumus penghitungan LOS. Namun hal tersebut akan menimbulkan 2 hasil analisis karena standart ideal dari DEPKES memiliki rentang lebih sedikit dibandingkan standart ideal aturan BARRY BARBER dan DAVID JOHNSON, meskipun dari penghitungan rumus tidak akan terlalu jauh pergeserannya.

Sehingga kita harus memiliki 2 grafik barber johnson, dengan aturan dari masing-masing.

bingung untuk membedakannya???? sekarang mudah, karena saya akan membantu anda dengan aplikasi yang telah saya buat. yaitu :
- GBJ 1.1 D, yang merupakan revisi dari GBJ 1.0 D. Ini merupakan aplikasi Grafik Barber Johnson yang sangat sederhana yang akan menampilkan 2 macam Grafik Barber Johnson yang menganut dari 2 aturan pembuatan GBJ diatas.

GBJ 2.1 D, yang merupakan revisi dari GBJ 2.0 D. Berbeda dengan versi sebelumnya aplikasi Grafik Barber Johnson dilengkapi dengan penghitungan BULANAN, TRIWULAN dan TAHUNAN. dimana beberapa laporan tersebut yang sering menjadi bahan manajemen dalam mengambil keputusan. Sama halnya aplikasi GBJ 1.1 D, GBJ 2.1 D juga menampilkan 2 macam Grafik Barber Johnson masing-masing dengan aturan pembuatan GBJ diatas.

GBJ 3.1 D, merupakan penyempurnaan dari GBJ 3.0 D. Aplikasi ini dibuat jauh lebih kompleks, dimana aplikasi ini dibuat sedemikian rupa untuk mempermudah kita dalam pembuatan Grafik Barber Johnson hingga pembuatan pelaporan data statistik pasien rawat inap. Dimana dalam Aplikasi ini kita hanya dituntut mengisi sensus rawat inap dengan benar, dan akan menghasilkan :
- nilai-nilai indikator,
- nilai-nilai parameter,
- Grafik Barber Johnson dalam 2 macam diatas aturan dan
- Pelaporan statistik pasien rawat inap akan terhitung secara otomatis, serta
- Akan lebih dipermudah dengan area print out yang telah disesuaikan sehingga kita hanya tinggal mencetak sesuai dengan yang diinginkan.


bila ingin coba bisa di download disini :

"GBJ 1.1 Demo"              "GBJ 2.1 Demo"                 "GBJ 3.1 Demo"

versi asli bisa didapatkan dengan mudah

bila berminat hubungi Muhammad Aldafikin
    

0856 438 62 610 atau email m.aldafikin@gmail.com

Jumat, 11 Januari 2013

Software Grafik Barber Johnson GBJ 3.0 D


Grafik Barber Johnson merupakan suatu cara untuk mengukur tingkat efisiensi pengelolaan rumah sakit, terutama penggunaan tempat tidur (TT) rawat inap. 

Ada 4 parameter yang menjadi dasar pembuatan Grafik Barber Johnson, yaitu BOR, LOS, TOI dan BTO. Adapun rumus untuk menghitungnya adalah;

                  
                Hari Perawatan                                                         
BOR = ---------------------------- x100%                             
         Jumlah TT x Jumlah Hari                                      

         (Jumlah TT x Jumlah Hari) - Hari Perawatan        
TOI = --------------------------------------------------------------         
                    Pasien Keluar (Hidup +Mati)                        

                   Hari Perawatan
LOS =  -------------------------------- 
         Pasien Keluar (Hidup +Mati)

                      Jumlah TT 
BTO =   --------------------------------
         Pasien Keluar (Hidup +Mati)

Berdasarkan rumus penghitungan parameter diatas maka kita membutuhkan beberapa indikator yaitu :
- Jumlah Tempat Tidur (TT) yang tersedia
- Total hari perawatan (HP)
- Jumlah pasien keluar (hidup + mati) (D)
- Jumlah Hari

Yang sering menjadi masalah adalah dalam menghitung "Hari Perawatan"
tapi sekarang tidak akan menjadi masalah, karena saya telah membuat software GBJ 3.0 D

GBJ 3.0 D merupakan perbaharuan dari versi sebelumnya, dimana pada versi ini semua data Indikator, Parameter dan Pelaporan statistik rawat inap serta hasil Grafik Barber Johnson akan terhitung secara otomatis. penggunaannya pun sangat mudah karena hanya berbasis Microsoft Excel

Anda hanya perlu menginput data dasar  rumah sakit dan sensus rawat inap saja maka akan secara otomatis menghasilkan Indikator, Parameter dan Pelaporan statistik rawat inap serta hasil Grafik Barber Johnson.








     bila ingin coba bisa di download disini  "GBJ 3.0 Demo

     versi asli bisa didapatkan dengan mudah hanya Rp. 400.000,- saja sebgai uang lembur

     bila berminat hubungi Muhammad Aldafikin
  
 
     0856 438 62 610 atau email m.aldafikin@gmail.com

Kamis, 10 Januari 2013

Software Grafik Barber Johnson GBJ 2.0 D

Grafik Barber Johnson merupakan salah satu alat untuk mengukur tingkat efisiensi pengelolaan rumah sakit. Grafik barber Johnson sendiri diperoleh dari hasil perhitungan beberapa data statistik rumah sakit. Untuk membuat Grafik Barber Johnson tersebut membutuhkan 4 Parameter yang akan menghasilkan haris sehingga akan bertemu pada satu titik koordinat,

Bagaimana caranya???
Bingung untuk membuatnya??

GBJ 2.0 D jawabannya
GBJ 2.0 D merupakan perbaharuan dari versi sebelumnya, dimana pada versi ini kita dapat membandingkan hasil efisiensi Rawat inap saat ini dengan sebelumnya. karena pada versi ini terdapat 3 macam, yaitu untuk GBJ Tahunan, Triwulan dan Bulanan dimana semua akan dihitung secara otomatis selayaknya software versi sebelumnya.


Kita hanya perlu menginput data-data sebagai berikut :

- Jumlah termpat tidur (TT) yang tersedia

- Total Hari perawatan

- Jumlah pasien keluar (hidup + mati)
- Total lama dirawat
- Jumlah hari


Serta data-data pendukung seperti :

- Garis bantu BOR dan BTO

- Standart Ideal dari setiap parameter



Data-data tersebut disesuaikan dengan sumber data TAHUNAN, TRIWULAN atai BULANAN.










     bila ingin coba bisa di download disini  "GBJ 2.0 Demo

     versi asli bisa didapatkan dengan mudah hanya Rp. 150.000,- saja

     bila berminat hubungi Muhammad Aldafikin
    

     0856 438 62 610 atau email m.aldafikin@gmail.com

Rabu, 09 Januari 2013

Software Grafik Barber Johnson GBJ 1.0 D

Grafik Barber Johnson merupakan suatu grafik yang diciptakan Pada tahun 1973 oleh Barry Barber dan David Johnson dengan cara merumuskan dan memadukan empat parameter indikator untuk memantau dan menilai tingkat efisiensi penggunaan Tempat Tidur suatu bangsal perawatan di unit pelayanan kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas Rawat Inap atau Klinik Rawat Inap).

4 parameter Indikator yang digunakan dalam membuat Grafik Barber Johnson adalah :
- BOR ( Bed Occupancy Ratio)
- ALOS (Average Length Of Stay)
- TOI (Turn Over Interval)
- BTO ( Bed Turn Over)

Bagaimana cara membuat grafiknya?Bingung untuk membuatnya???

Anda tidak perlu repot untuk membuat sendiri karena saya telah membuat Software grafik Barber Johnson dengan Program Excel.  Grafik ditampilkan secara otomatis,

GBJ 1.0 D :
GBJ 1.0 D merupakan software Grafik Barber Johnson yang dibuat mengikuti aturan sebenarnya dari GBJ itu sendiri, dimana software ini merupakan software yang sangatlah sederhana dan sangatlah mudah digunakan.

Anda hanya perlu menginput data-data sebagai berikut :
- Jumlah Tempat Tidur (TT) yang tersedia
- Total Hari Perawatan (HP)
- Jumlah Pasien Keluar (Hidup + Mati)
- Total Lama Dirawat (LD)
- Jumlah Hari

Dan data-data pendukung yaitu :
- garis bantu BOR dan BTO
- serta standart ideal

sehingga semua akan terhitung secara otomatis.






     bila ingin coba bisa di download disini "GBJ 1.0 Demo"

     versi asli bisa didapatkan dengan mudah hanya Rp. 50.000,- saja

     bila berminat hubungi Muhammad Aldafikin
    

     0856 438 62 610 atau email m.aldafikin@gmail.com


Grafik Barber Johnson

Rumah sakit merupakan sarana kesehatan yang juga mengedepankan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat. Rumah sakit dapat diibaratkan sebagai sebuah perusahaan. Untuk itu, Rumah sakit juga memerlukan sebuah manajemen yang baik sehingga kegiatan pelayanan dapat berjalan dengan baik. Dalam hal tersebut rumah sakit memerlukan beberapa indikator untuk mengetahui efisiensi dari penggunaan sumberdaya yang dimiliki.



Barry Barber,M.A., Ph.D.,Finst P.,AFIMA dan David Johnson,M.Sc., pada tahun 1973 berhasil menciptakan suatu metode yang digambarkan dalam sebuah grafik yang secara visual dapat menyajikan dengan jelas tingkat efisiensi pelayanan rawat inap rumah sakit. 

Grafik Barber Johnson merupakan salah satu alat untuk mengukur tingkat efisiensi pengelolaan rumah sakit. Grafik barber Johnson sendiri diperoleh dari hasil perhitungan beberapa data statistic rumah sakit. Dan dalam hal ini, tentu saja medical recorder memegang peran penting. Beberapa data statistic tersebut antara lain:


BOR – berfungsi untuk mengetahui seberapa jauh RS digunakan oleh masyarakat dan seberapa jauh masyarakat menggunakan pelayanan rawat inap. BOR ini akan sangat penting dalam pengambilan keputusan perencanaan rumah sakit.



BOR, AvLOS, TOI, dan BTO – merupakan indikator yang digunakan untuk menilai efisiensi pengelolaan RS. Selain itu merupakan dasar dalam menemukan kemungkinan-kemungkinan sebab ketidakefisiensian untuk perbaikan selajutnya. Untuk menilai efisiensi dibutuhkan keempat data tersebut, atau dengan kata lain bukan hanya salah satu data yang digunakan untuk menilai efisiensi.



Fungsi Grafik Barber Johnson antara lain:

1.Untuk perbandingan efisiensi dalam kurun waktu tertentu
2. Memonitor terhadap standar/target yang telah ditentukan
3. Perbandingan efisiensi antar ruang
4. Mengecek kesesuaian laporan

Grafik BOR makin dekat dengan sumbu Y maka BOR semakin tinggi
Grafik BTO mendekati titik sumbu maka pasien keluar makin tinggi
Apabila TOI tetap, AvLOS berkurang, BOR akan turun

Batasan nilai efisien
BOR – 75%-85%
TOI – 1-3 hari
AvLOS – 3-12 hari
BTO >30

Adapun cara penghitungan Parameter Grafik Barber Johnson adalah :
Grafik ini menggambarkan 4 parameter dalam satu grafik, yaitu LOS, TOI, BOR dan BTO.
Grafik ini bisa digunakan untuk menggambarkan perkembangan empat parameter tersebut dari tahun ke tahun
Dalam grafik ini sumbu datarnya adalah TOI dan Sumbu tegaknya LOS.
Pada grafik juga ada garis BOR ( BOR 50%, 70%, 80% dan 90%) dan garis BTO (BTO 30, 20, 15 dan 12,5).
Menggambar garis BOR dan BTO
Ingat :
                  
                       Hari Perawatan                                                         
BOR = ---------------------------- x100%                             
               Jumlah TT x Jumlah Hari                                          

                   (Jumlah TT x Jumlah Hari) - Hari Perawatan            
TOI = --------------------------------------------------------------         
                          Pasien Keluar (Hidup +Mati)                            

                        Hari Perawatan
LOS =  -------------------------------- 
               Pasien Keluar (Hidup +Mati)

                           Jumlah TT     
BTO =   --------------------------------  
               Pasien Keluar (Hidup +Mati)



               

Sejarah Rekam Medis


Rekam medis dalam dunia kedokteran profesional mutlak diperlukan agar data klinis sang pasien sejak diagnosa sampai proses pengobatan dapat tercatat dan tersimpan dengan rapi. Hal ini sewaktu-waktu dapat ditinjau kembali jika pasien mengalami sakit di kemudian hari.
Sejarah rekam medis dimulai bersamaan dengan awal kemunculan ilmu kedokteran, diperkirakan tidak lama setelah peradaban Mesir Kuno mulai terbentuk yaitu sekitar abad ke-32 Sebelum Masehi. Manusia-manusia kala itu banyak menorehkan cerita kegiatan pengobatan dan catatan medis pada dinding-dinding batu. Lalu, saat daun papirus ditemukan, rekam medis mulai dituliskan secara sistematis di atas kertas papirus.
Ide membuat catatan medis secara komprehensif dapat berkembang pesat berkat dokter-dokter Muslim yang belajar ilmu kedokteran di rumah sakit-rumah sakit besar di Damaskus. Pada abad ke-8 Masehi, rumah sakit di sana memiliki dwi fungsi yaitu sebagai tempat perawatan orang-orang sakit dan tempat para dokter Muslim mengembangkan kemampuannya demi menciptakan inovasi-inovasi baru dalam bidang kedokteran.
Salah satu inovasi tersebut adalah penemuan sistem rekam medis yang kemudian diterapkan di salah satu rumah sakit terbesar bernama Al-Nuri. Karena pentingnya medical record bagi pihak dokter, rumah sakit dan juga pasien, banyak rumah sakit besar di dalam dan luar Damaskus yang mulai menggunakannya.
Sementara, cikal bakal ilmu kedokteran dan pengadaan data klinis pasien sesungguhnya pertama kali diperkenalkan oleh Ibnu Sina atau yang lebih dikenal oleh Bangsa Barat sebagai Avicenna. Dalam buku karyanya, The Canon of Medicine atau Qanun fi Thib, Ibnu Sina menuliskan eksperimennya terhadap obat-obatan yang cocok dengan penyakit pasien. Terdapat catatan medis yang runut yang dipergunakannya sebagai acuan dalam menguji sekitar 800 obat.
Rekam medis dahulu sudah dilakukan para tabib dengan menuliskan keterangan mengenai kondisi pasien pada daun lontar atau sarana tulis menulis lain sesuai dengan zamannya. Pada zaman modern seperti sekarang, medical record dilakukan di rumah sakit besar yang tertulis dalam data komputer berisi pendataan administratif, diagnosa, konsultasi cara pengobatan dengan dokter yang menangani, perawatan dan pemeriksaan berkala yang akan dijalani pasien selama dirawat dirumah sakit.
Khusus dalam bidang kedokteran di Indonesia, rekam medis telah dibakukan dan diatur dalam undang-undang yaitu UU No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Salah satu butirnya berisi bahwa diperlukan upaya yang lebih memadai bagi peningkatan derajat kesehatan dan pembinaan penyelenggaraan upaya kesehatan secara terpadu dan menyeluruh.
Kemudian muncul Permenkes No.269/MENKES/PER/III/2008 yang menjelaskan tentang apa itu rekam medis dan bagaimana prosedurnya. Rekam medis berlaku untuk pasien rawat inap, rawat jalan dan pasien dalam ruang gawat darurat. Semakin banyak layanan kesehatan yang diberikan, maka semakin banyak pula data yang harus diisikan dalammedical record pasien.
Rekam medis berisi data seperti :
  • Identitas pasien.
  • Kondisi pasien saat tiba di rumah sakit.
  • Identitas pengantar atau keluarga pasien.
  • Waktu kedatangan.
  • Pemeriksaan fisik.
  • Diagnosa dokter.
  • Tindakan atau pengobatan.
  • Keterangan dokter dan atau tenaga medis yang menangani.Top of FormBottom of Form
Pelayanan Rekam Medis bukan pelayanan dalam bentuk pengobatan, tetapi merupakan bukti pelayanan, finansial, aspek hukum dan Ilmu Pengetahuan. Peran Rekam Medis sangat dibutuhkan untuk mengelola bahan bukti pelayanan kesehatan dengan aman, nyaman, efisien, efektif dan rahasia. Sehingga rekaman pelayanan kesehatan dapat berfungsi sebaik-baiknya untuk tindakan pelayanan yang diperlukan. Munculnya transformasi paradigma rekam medis dari tradisional menjadi manajemen informasi kesehatan pada pertengahan tahun 1990-an merupakan reformasi baru di bidang informasi kesehatan yang dipicu oleh modernisasi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Perekam Medis dan Informasi Kesehatan yang profesional wajib memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan standar kompetensi dan kode etik profesi.
Bagaimana menjalankan visi dan misi masyarakat mandiri hidup sehat bila deteksi dini dari penyajian informasi awal tidak cepat dan tepat dikelola melalui sistem informasi kesehatan terpadu. Tujuan pengelolaan rekam medis adalah untuk menunjang tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang didukung oleh suatu sistem pengelolaan rekam medis yang cepat, tepat, bernilai dan dapat dipertanggung jawabkan.
Demikian sambutan Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan pada acara rapat kerja pengembangan pelayanan rekam medik di Rumah Sakit Regional I yaitu untuk rumah sakit bagian timur Indonesia, pada tanggal 22 s/d 24 Maret 2011 di Surabaya. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur sebagai tuan rumah, Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Kepala Instansi Rekam Medis RS, Koordinator Pelaksana Pelayanan Rumah Sakit, Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Pormiki Pusat. Rapat kerja pengembangan pelayanan rekam medik di Rumah Sakit Regional II ditujukan untuk rumah sakit bagian barat Indonesia resmi dibuka Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan, dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS pada tanggal 29 – 31 Maret 2011, dan dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Kepulauan Riau dan KadinKes Kota Batam sebagai tuan rumah, Kepala Instansi Rekam Medis RS, Koordinator Pelaksana Pelayanan Rumah Sakit, Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Pengurus Organisasi Profesi Perekam Medis (PORMIKI) Pusat.
Rekam Medis merupakan bukti tertulis tentang proses pelayanan yang diberikan oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya kepada pasien dalam rangka penyembuhan pasien, rekam medis mencatumkan nilai administrasi, legal, finansial, riset, edukasi, dokumen, akurat, informatif dan dapat dipertanggung jawabkan Rekam Medis harus dibuat secara tertulis, lengkap dan jelas atau secara elektronik. Penyelenggaraan Rekam Medis dengan menggunakan teknologi informasi elektronik diatur lebih lanjut dengan peraturan tersendiri. Kegunaan Rekam Medis di Rumah Sakit yaitu berupa aspek administrasi, aspek medis, aspek hukum, aspek keuangan, aspek penelitian.
Laporan rumah sakit meliputi : Laporan internal Rumah Sakit (disesuaikan dengan kebutuhan rumah sakit), Laporan eksternal Rumah Sakit yang dilaporkan pada Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Provinsi serta Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Periode pelayanan eksternal yaitu bulanan, tri bulanan dan tahunan. Negara seperti Cina yang Kedokteran Timurnya menjadi besar karena mencatat secara medis secara rinci tentang pengalamannya, prosesnya, peningkatan mutu, mengolah data informasinya. Di Negara kita yang yang hobby mengolah data rekam medik untuk menjadi perencanaan jangka panjang adalah tidak banyak, kita terlalu terlena terhadap sesuatu yang rutin, biasa-biasa saja dan hanya mencatat yang seperlunya saja. Kita menjadi bangsa yang kurang produktif tentang pencatatan karena 3 hal yaitu (1) menganggap sesuatu yang rutin, (2) sikap yang menunggu perintah/juklak dan (3) mengandalkan asistensi yaitu menunggu bantuan orang lain. Jangan hanya diam tapi harus proaktif dan harus berbasiskan teknologi informasi jangan manual.
Selama ini kesulitan yang dihadapi rekam medis adalah menghadapi perilaku manajer/direksi, perilaku dokter dan perilaku rekam medis. Dalam penyusunan standar rekam medis harus yang ekselent bukan biasa-biasa saja, karena dengan standar yang tinggi dan pencapaian yang tinggi akan meningkatkan harga diri.
Pembangunan Kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembanguan nasional, ada 7 reformasi pembangunan di bagian Kesehatan terdiri dari:
  • Revitalisasi pelayanan Kesehatan
  • Ketersediaan, distribusi, retensi dan mutu SDM
  • Ketersediaan, distribusi, keamanan, mutu, efektifitas, keterjangkauan obat, vaksin, alkes.
  • Jaminan kesehatan masyarakat
  • Keberpihakan kepada DTPK dan DBK
  • Reformasi birokrasi
  • World calss health care
Kita di tuntut untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang prima bagi masyarakat. Dalam rangka mendukung tercapainya akses pelayanan yang berkualitas, upaya yang dilakukan adalah menyediakan layanan, SDM, maupun fasilitas yang berkualitas dan terjangkau. Pada saat ini kita telah memasuki era globalisasi persaingan pasar bebas diperlukan peningkatan mutu dari segala bidang yang salah satu nya adalah peningkatan layanan bermutu di rumah sakit menuju pada kualitas pada layanan global yang diakui secara internasional, yang harus di dukung dengan peningkatan mutu pelayanan rekam medik melalui sistem pengelolaan manajemen informasi kesehatan yang baik dan benar di rumah sakit. Rapat Kerja ini ini menghasilkan kesepakatan perlunya disusun Grand Design tentang Pelayanan Keteknisian Medik dan Keterapian Fisik yang mencakup pelayanan Radioterapi, Radiografer, Teknis Gigi, Teknis Elektromedis, Teknis Kardiovaskuler, Fisikawan Medis, Ortotek Prostetik, Rafraksioptik, Rekam Medik, Teknis Transfusi Darah, dan Fisioterapi, Terapi Wicara, Okupasi Terapi, dan Akupuntur.
Rangkuman dari Rapat kerja menghasilkan sebagai berikut:
  • Adanya standar sarana prasarana Pelayanan Rekam Medis sesuai dengan tipe Rumah Sakit di Indonesia.
  • Adanya perhitungan pola dan kualifikasi ketenagaan perekam medis & IK.
  • Penetapan Kedudukan Organisasi Pelayanan Rekam Medis di Rumah Sakit sesuai Tipe Rumah Sakit.
  • Diterbitkan nya BPPRM.
  • Usulan Kemudahan Dalam proses jabatan fungsional bagi profesi Rekam Medis dan informasi Kesehatan di daerah.
  • Kebijakan pemanfaatan Outsourcing yang berkaitan dengan IT Rumah Sakit ( terkait dengan IT Rekam Medis).
  • Untuk Percepatan profesi Rekam Medis, Di butuhkan perhatian pemerintah untuk mempercepat institusi pendidikan jalur Pemerintah.
  • Standarisasi kebutuhan IT Rumah Sakit di Indonesia.
  • Kebijakan atau adanya regulasi RME Atau RKE.